Ketua MWC NU Curug: Bendera HTI beda dengan Liwa Rasul

Ketua Tanfidizyah MWC NU Kecamatan Curug H. Fahmi Irfani MHum menyampaikan pesan dan catatan penting menanggapi insiden pembakaran bendera HTI yang terjadi di Tasikmalaya saat Apel Hari Santri Nasional 22 Oktober 2018.

“Dalam beberapa kajian historis, saya belum menemukan data kalau bendera Rasulullah itu ada tulisnya, melihat dari aspek sosio historis bangsa arab pada masa itu tidak familiar dengan tradisi menulis. Jadi bisa dipastikan liwa nya Rasul itu tidak ada tulisannya.” jelas Fahmi.

Sejarah histrograf, lanjut Fahmi, tulisan arab pun baru mengalami perkembangan beberapa waktu sepeninggal Rasulullah yakni pada masa dinasti ummayah penulisan bahasa Arab mulai berkembang dengan sederhana pada masa itu. Bahkan pd masa Sayidina Ali, Abu Aswad Aduali baru memberi titik pada huruf arab. Pada masa Ummayahlah perkembangan tulisan arab mulai muncul dan berkembang lebih jauh.

Kalau dilihat dari kronologis sejarah, kembali saya pertegas bahwa liwa/bendera Rasulullah itu tidak memiliki tulisan apalagi tulisan seperti yang ada pada bendera HTI lengkap dengan khat yang selama ini beredar.

Hukum membakar Al-qur’an

Sementara itu, menanggapi insiden pembakaran bendera HTI di Tasikmalaya oleh Banser,  Rais Suriyah MWCNU Kecamatan Curug Kabupaten Tangerang KH Hafis Gunawan SPdi menyampaikan pengarahan dan masukkan kepada seluruh Nahdliyyin di Kecamatan Curug khususnya agar kita tetap tenang tidak terpancing provokasi oleh kelompok yang sengaja memancing ingin memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa dan negara kita terlebih di tahun politik ini yang suhunya semakin memanas.

و يكره (إحراق خشب نقش به) أي بالقرآن، نعم إن قصد به صيانة القرآن فلا كراهة وعليه يحمل تحريق عثمان رضي الله عنه المصاحف. وقد قال ابن عبد السلام من و
جد ورقة فيها البسملة ونحوها لايجعلها في شق ولا غيره لأنه قد تسقط فتوطأ وطريقه أن يغسلها بالماء أو يحرقها بالنار صيانة لاسم الله تعالى عن تعرضه للامتهان (اسنى المطالب للشيخ عز الدين ابن عبد السلام)

“Dimakruhkan membakar kayu yang terdapat ukiran Al-Qur’an di permukaannya. Akan tetapi, tidak dimakruhkan (membakar) bila tujuannya untuk menjaga Al-Qur’an. Atas dasar itu, pembakaran mushaf-mushaf yang dilakukan Utsman bin Affan dapat dipahami. Ibn Abdil Salam mengatakan, orang yang menemukan kertas bertulis basmalah dan lafal agung lainnya, janganlah langsung merobeknya hingga tercerai-berai karena khawatir diinjak orang. Namun cara yang benar adalah membasuhnya dengan air atau membakarnya dengan tujuan menjaga nama Allah dari penghinaan.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *